Skip to content

Permaculture: Sebuah Revolusi yang Tenang, Wawancara dengan Bill Mollison

July 12, 2011

Photo copyright by Craig Mackintosh

This article was written by Scott London and can be found at http://bit.ly/qbOoxp

Alih bahasa oleh Abdi Christia.

Bill Mollison menyebut dirinya sebagai ahli biologi lapangan dan pengajar keliling. Tapi akan lebih tepat menggambarkannya sebagai seorang pelopor. Ketika dia menerbitkan buku Permaculture One pada tahun 1978, dia memulai sebuah gerakan pemanfaatan-lahan secara internasional, yang dianggap subversif oleh banyak orang, bahkan revolusioner.

Permaculture – dari kata permanent dan agriculture – adalah filosofi desain terpadu yang melingkupi berkebun, arsitektur, hortikultur, ekologi, bahkan manajemen keuangan dan desain komunitas. Pendekatan dasarnya adalah menciptakan sistem lestari yang menyediakan kebutuhan masyarakat dan mendaur ulang limbah yang dihasilkan.

Mollison mengembangkan Permaculture setelah menghabiskan beberapa dasawarsa di hutan hujan dan gurun Australia saat memelajari ekosistem. Dia mengamati bahwa secara alami tumbuhan mengelompokkan diri mereka dalam komunitas yang saling menguntungkan. Dia menggunakan ide ini untuk mengembangkan sebuah pendekatan yang berbeda terhadap desain pertanian dan komunitas, ide yang memelajari bagaimana menggabungkan unsur-unsur yang tepat sehingga mereka saling menopang dan mendukung satu sama lain.

Hari ini ide-idenya telah menyebar dan berakar di hampir semua negara di dunia. Permaculture sekarang dipraktekkan di hutan hujan di Amerika Selatan, di gurun Kalahari, di lingkaran Arktik utara Skandinavia, dan di komunitas-komunitas di seluruh Amerika Utara. Di New Mexico contohnya, petani telah menggunakan Permaculture untuk mengubah petak-petak tanah yang keras dan padat menjadi kebun yang asri dengan pohon buah-buahan tanpa menggunakan alat berat. Di Davis, California, sebuah komunitas menggunakan air sisa mandi dan cuci untuk menyentor toilet dan mengairi kebun. Di Toronto, sebuah tim arsitek telah membuat desain swakelola air untuk rumah perkotaan, yang tidak mengambil air dari jaringan air minum kota ataupun membuang air kotor ke gorong-gorong, dan itu hanya membutuhkan biaya operasional beberapa ratus dolar setahun.

Meskipun Mollison masih belum dikenal oleh banyak orang Amerika, dia adalah ikon nasional di Australia. Dia pernah mendapatkan penghargaan “Man of the Year,” dan pada tahun 1981 dia menerima hadiah prestisius Right Livelihood Award, juga dikenal sebagai Hadiah Nobel Alternatif, untuk karyanya mengembangkan dan mempromosikan Permaculture.

Saya duduk dengannya untuk membicarakan filosofi desainnya yang inovatif. Kami bertemu di kursus dua hari di Santa Barbara yang merupakan lanjutan dari kursus intensif dua minggu yang dia ampu tiap tahun di Ojai. Dia orang yang pendek, bulat, dengan janggut putih dan senyuman lebar, dia adalah salah satu orang paling supel dan baik hati yang pernah saya temui. Seorang pencerita yang berpengalaman, sepertinya dia punya cerita – atau guyonan – untuk tiap kesempatan. Komentar-komentarnya sering dilengkapi dengan sebuah tawa yang hangat dan menular.

Scott London:  Seorang pengulas (reviewer, red.) pernah menggambarkan ajaran-ajaran Anda bersifat “memberontak terhadap pemerintahan.”

Bill Mollison:  Ya, itu sangat tergantung pada sudut pandangnya. Saya mengajarkan swasembada, praktek paling subversif (memberontak terhadap pemerintahan) di dunia. Saya mengajarkan pada orang-orang bagaimana menumbuhkan makanan mereka sendiri, dan ternyata itu hal yang sangat subversif. Jadi, ya, itu sifatnya memberontak. Tapi itu pemberontakan yang damai.

London: Kapan Anda mulai mengajarkan Permaculture?

Mollison: Pada awal tahun 1970an, saya tersadar bahwa tidak seorangpun menerapkan desain untuk pertanian. Saat saya menyadarinya, rambut kuduk saya berdiri. Aneh sekali. Kita telah bertani selama 7.000 tahun dan kita telah merugi selama 7.000 tahun – semuanya telah berubah menjadi gurun. Maka saya membayangkan, dapatkah kita membangun sistem yang mematuhi prinsip-prinsip ekologi? Kita tahu prinsip-prinsip itu, hanya saja kita tidak pernah menerapkannya. Ahli ekologi tidak pernah menerapkan ekologi yang baik di kebun mereka. Arsitek tidak pernah memahami transmisi panas di bangunan-bangunan mereka. Dan ahli fisika hidup di rumah dengan penggunaan energi gila-gilaan. Sungguh mengherankan bahwa kita tidak pernah menerapkan yang kita tahu dalam hidup sehari-hari.

London: Hal itu dapat menjelaskan tentang masalah lingkungan yang kita alami saat ini.

Mollison: Ya, benar. Saya ingat laporan Club of Rome tahun 1967 yang berkata bahwa kerusakan lingkungan tak terhindarkan karena pertumbuhan populasi dan penggunaan sumber daya secara berlebihan. Setelah membaca itu, saya berpikir, “Manusia sangat bodoh dan suka merusak – kita tak bisa melakukan apapun bagi mereka.” Maka saya menarik diri dari masyarakat. Saya berpikir saya akan mundur, tinggal di bukit, sambil melihat semuanya runtuh.

Etikanya sederhana: peduli bumi, peduli manusia, dan membagikan kelebihan yang kita punya.

Butuh waktu tiga minggu sebelum saya menyadari bahwa saya harus kembali dan berjuang. (Tawa) Anda tahu, Anda harus keluar dari masyarakat untuk bisa ingin masuk lagi dalam masyarakat.

London: Apakah itu saat lahirnya ide tentang Permaculture?

Mollison: Sebenarnya itu terjadi pada tahun 1959. Saya sedang di hutan hujan Tasmania memelajari interaksi antara marsupial yang meramban (makan daun dan ranting yang masih lunak dari semak atau pohon, red.)  dan regenerasi hutan. Kami tidak banyak berhasil dalam meregenerasi hutan dengan populasi marsupial yang besar. Jadi saya membuat sebuah sistem sederhana dengan 23 spesies tumbuhan berkayu, di mana hanya 4 yang dominan, dan hanya dua marsupial yang merumput. Itu sistem yang sangat fleksibel berdasarkan interaksi komponen-komponennya, bukan jenis spesiesnya. Suatu sore saya tersadar bahwa kita dapat membangun sistem yang bekerja lebih baik dari itu.

Peristiwa itu wahyu yang sangat mengagumkan. Jarang sekali dalam hidup Anda – mungkin sekali dalam satu dasawarsa – Anda mendapatkan wahyu. Bila Anda seorang aborigin, itu menentukan usia Anda. Anda hanya mendapatkan satu wahyu untuk satu usia, tak peduli berapa umur Anda sebenarnya. Bila Anda beruntung, Anda bisa mendapat tiga wahyu dalam hidup.

Sebab saya adalah seorang pengajar, saya menyadari bahwa bila saya tidak mengajarkannya, hal itu tidak akan berkembang. Jadi saya mulai mengembangkan instruksi desain berdasarkan pengetahuan pasif, dan saya menulis buku tentang itu yang berjudul Permaculture One. Saya jadi takut sendiri ketika semua orang tertarik pada tulisan saya. (Tawa) Saya dapat ribuan surat yang berisi, “Anda telah menuliskan sesuatu yang ada dalam pikiran saya selama bertahun-tahun,” dan “Anda telah memberi saya sesuatu yang dapat saya gunakan.”

London: Permaculture didasari oleh prinsip dan penelitian ilmiah. Tapi saya melihat Permaculture juga mengambil pelajaran dari kearifan rakyat tradisional dan lokal.

Mollison: Bila saya menemui seorang perempuan Yunani tua yang sedang duduk di kebun anggur dan bertanya, “Mengapa Anda menanam mawar di antara anggur?” Dia akan menjawab, “Sebab mawar adalah dokternya anggur. Bila Anda tidak menanam mawar, anggurnya akan sakit.” Itu tidak banyak membantu saya. Tapi bila saya dapat menemukan bahwa mawar mengeluarkan senyawa kimia akar tertentu yang diserap oleh anggur, yang nantinya akan mengusir lalat putih (ini cara ilmiah untuk mengatakan hal yang sama), maka saya mendapatkan sesuatu yang sangat berguna.

Pengetahuan tradisional selalu berhubungan dengan alam. Saya mengenal seorang laki-laki Filipina yang selalu menanam sebiji cabai dan empat biji kacang dalam lubang yang sama ketika menanam pisang. Saya bertanya padanya, “Mengapa Anda menanam cabai dengan pisang?” Dia berkata, “Tidak tahukah Anda, Anda harus menanam mereka bersama-sama.” Baiklah, akhirnya saya tahu bahwa kacang mengikat nitrogen dan cabai mencegah kumbang menyerang akar pisang. Itu bekerja dengan sangat baik.

London: Anda telah mengenalkan Permaculture di tempat yang masih bergantung pada praktek pertanian tradisional. Apakah mereka bisa menerima ide-ide Anda?

Mollison: Saya punya cara yang sangat cerdik dalam mendekati suku-suku yang punya budaya kuat. Contohnya, saya pergi ke Central Desert di mana semua orang setengah kelaparan dan bertanya, “Apa yang dapat kami bantu?” Maka saya akan berbohong dan berkata, “Saya tak tahu bagaimana mengerjakan ini.” Dan mereka berkata, “Oh, ayolah, kami akan mengerjakannya.” Setelah pekerjaan itu selesai, mereka telah melakukannya sendiri.

Saya ingat ketika kembali ke sekolah yang kami dirikan di Zimbabwe. Sekolah itu hijau dan dikelilingi dengan makanan. Suhu di ruang kelasnya diatur. Saya bertanya pada mereka, “Siapa yang mengerjakan ini?” Mereka berkata, “Kami yang mengerjakannya!” Ketika orang melakukan sesuatu dengan upaya mereka sendiri, mereka bangga atas hal itu.

London: Bagi beberapa orang – terutama suku-suku pedalaman – gagasan bahwa Anda dapat menumbuhkan makanan Anda sendiri itu sangat revolusioner.

Mollison: Ketika Anda tumbuh di dunia di mana Anda punya dampak yang sangat kecil terhadap tanah di sekitar Anda, Anda tidak berpikir tentang menciptakan sumber daya sendiri. Anda makan apa yang jatuh di tanah. Jumlah penduduk masyarakat Anda tergantung pada apa yang jatuh di tanah. Permaculture membuat Anda dapat berpikir berbeda, sebab Anda dapat menumbuhkan apapun yang Anda butuhkan dengan sangat mudah.

Contohnya, bushmen di Kalahari punya kacang lokal bernama kacang morama. Itu adalah tanaman tahunan yang tumbuh di dalam tanah dan menyebar ketika hujan. Mereka biasanya mencari dan mengumpulkannya. Tapi setelah mereka terdesak keluar dari tanah mereka untuk menyediakan lahan bagi hewan liar dan cagar alam, kacang morama jadi sulit ditemukan. Saya bertanya pada mereka, “Mengapa Anda tidak menanam kacang itu di sini?” Mereka berkata, “Apa menurut Anda kami bisa menanamnya?” Maka kami menanam kacang itu di kebun mereka. Sampai sebelum itu, mereka tak pernah benar-benar berpikir menanam sesuatu. Sangat mengejutkan mereka bahwa mereka sungguh bisa melakukan hal tersebut.

Hal yang sama terjadi dengan pohon mongongo yang tumbuh di atas gundukan pasir. Mereka tak pernah memindahkan pohon itu dari satu gundukan ke gundukan lainnya. Tapi saya kemudian memotong cabang sebuah pohon mongongo lalu menancapkannya di pasir. Cabang itu mulai menumbuhkan daun dan menghasilkan kacang mongongo. Sekarang mereka bisa menumbuhkan pohon itu di manapun mereka mau.

London: Anda pernah menggambarkan pertanian teknologi modern sebagai sebuah bentuk “ilmu sihir.”

Mollison: Ya, itu memang semacam ilmu sihir. Hari ini kita punya lebih banyak ilmuwan ahli tanah dibandingkan sepanjang sejarah yang ada. Bila Anda membuat plot bertambahnya ilmuwan ahli tanah terhadap kerusakan tanah, Anda akan lihat bahwa ketika makin banyak ilmuwan ahli tanah, makin banyak tanah yang rusak.

Saya ingat melihat tentara yang kembali dari perang tahun 1947. Mereka membawa wadah logam kecil dengan tutup yang bisa mudah ditarik itu. Ketika mereka menarik tutupnya, mereka menyemprotkan DDT ke seluruh ruangan sehingga Anda tak melihat lalat ataupun nyamuk lagi – atau kucing. (Tawa) Setelah perang, mereka mulai menggunakan bahan kimia itu di pertanian. Gas-gas yang digunakan Nazi sekarang dikembangkan untuk pertanian. Tank dibuat menjadi bajak. Sebagian alasan adanya lonjakan besar-besaran pupuk buatan adalah karena industri sudah dikembangkan untuk menghasilkan nitrat untuk bahan peledak. Lalu tiba-tiba mereka menemukan Anda dapat memberikannya pada tanaman dan mendapat hasil yang banyak.

London: Jadi revolusi hijau adalah semacam perang melawan tanah, bila ditilik dari sudut pandang tadi.

Mollison: Itu benar. Pemerintah masih mendukung pertanian semacam ini dengan dana sekitar 40 milyar dolar tiap tahunnya. Dana itu tidak mendukung sistem alternatif seperti pertanian organik atau pertanian yang menciptakan tanah. Bahkan Cina sekarang mengadopsi pertanian kimiawi modern.

London: Saya ingat ekonom Robert Theobald berkata pada saya bahwa bila Cina memutuskan untuk ikut jalan negara Barat, permainan mempertahankan kelestarian lingkungan berakhir sudah.

Mollison: Saya mendengar dua “Eurokrat” di Wina berbicara tentang lingkungan. Satu orang berkata, “Menurutmu berapa lama lagi waktu yang kita punya?” Satunya menjawab, “Sepuluh tahun.” Orang pertama lalu berkata, “Anda seorang optimis.” Maka saya berkata pada mereka, “Bila Cina mulai mengembangkan kendaraan bermotor, kita cuma punya dua tahun.”

London: Konsumsi berlebihan seperti apa yang paling mengganggu Anda?

Mollison: Saya benci halaman rumput. Secara bawah sadar saya pikir kita semua membencinya sebab kita jadi budak mereka. Bayangkan jutaan orang yang naik pemotong rumput mereka dan berkendara berputar-putar tiap Sabtu dan Minggu.

Semua orang punya halaman rumput seperti ini di Australia yang berukuran antara 0,4 sampai 2 hektar. Anda lihat orang pulang kerja hari Jumat, naik mesin pemotong rumput mereka, dan memotong rumput sepanjang akhir minggu. Hari Senin pagi Anda dapat pergi ke sana dan melihat pemotong rumput di tengah-tengah halaman seluas dua hektar tersebut, menunggu Jumat depan. Seperti idiot saja, kita menghabiskan semua waktu luang kita mengendarai mesin-mesin gila itu, memotong rumput yang akan tumbuh lagi minggu depan.

London: Permaculture mengajari kita bagaimana menggunakan energi minimum untuk mengerjakan sesuatu.

Mollison: Itu benar. Semua rumah harus menghasilkan energi lebih dari yang dibutuhkannya dan menjual kelebihannya ke jaringan. Kita telah membangun desa yang melakukan hal itu – di mana satu atau dua bangunan memiliki panel surya untuk 60 rumah di sana dan menjual kelebihannya ke jaringan. Dalam tujuh tahun, Anda dapat membayar semua pengeluaran awal Anda dan menikmati energi gratis. Mereka menggunakan ide yang sama di Denmark. Setiap desa di sana punya kincir angin yang dapat menyediakan energi untuk 800 rumah.

London: Prinsip yang sama mungkin juga berlaku untuk energi manusia juga. Saya mangamati Anda menyarankan untuk tidak menggali dan mencangkul tanah di kebun, sebab itu membutuhkan energi yang dapat digunakan untuk hal lain.

Mollison: Hmm, beberapa orang suka mencangkul. Itu seperti punya sepeda latihan di kamar tidur Anda. Tapi saya lebih suka menyerahkannya pada cacing tanah. Mereka melakukan pekerjaannya dengan baik. Saya telah membuat tanah yang sangat baik hanya dengan memberi mulsa (penutup tanah, tentunya dari bahan organik, red.).

London: Apakah Permaculture berlaku juga untuk kita yang tinggal di perkotaan?

Mollison: Ya, ada satu bagian khusus di manual tentang Permaculture perkotaan. Ketika pertama kali saya pergi ke New York, saya membantu memulai sebuah pertanian herba di South Bronx. Di sana tanahnya sangat murah karena tidak ada listrik, air, polisi, dan di sana penuh dengan narkoba. Pertanian kecil ini berkembang dan memasok 80 % herba di kota New York. Sekarang ada 1.100 pertanian perkotaan di New York.

London: Bila tidak bisa membuat sebuah pertanian, apa yang dapat kita lakukan untuk membuat kota lebih lestari?

Mollison: Tampung air hujan dari atap Anda. Tanam makanan Anda sendiri. Hasilkan energi Anda sendiri. Sangat mudah sekali melakukan hal-hal itu. Butuh lebih sedikit waktu untuk menanam makanan Anda daripada pergi ke supermarket dan membelinya. Bertanyalah pada pekebun organik yang baik, yang memberi mulsa pada tanahnya, berapa lama waktu yang dia habiskan di kebunnya, dan dia akan menjawab, “Oh, beberapa menit tiap minggu.” Pada saat Anda mengendarai mobil Anda dan pergi ke supermarket, mengambil troli dan mengumpulkan sayuran hijau Anda, dan kembali ke rumah, Anda sudah menghabiskan satu atau dua jam yang berguna – lebih lagi Anda sudah mengeluarkan banyak uang.

London: Meskipun Permaculture berdasarkan prinsip-prinsip ilmiah, sepertinya ada dimensi filosofi dan etika yang sangat kuat di dalamnya.

Mollison: Ada dimensi etika karena saya pikir ilmu pengetahuan tanpa etika adalah sosiopatologi (penyakit masyarakat, red.). Mengatakan sesuatu seperti, “Saya akan menerapkan yang saya tahu, tak peduli bagaimana hasilnya,” adalah tindakan yang sangat tidak bertanggung jawab. Saya tak mau terlibat dalam ilmu pengetahuan semacam itu.

London: Menurut Anda apa yang telah Anda mulai ini?

Mollison: Ini sebuah revolusi. Tapi jenis revolusi yang tak akan disadari orang-orang. Lingkungan akan punya lebih banyak naungan. Bangunan akan berfungsi lebih baik. Anda akan butuh lebih sedikit uang untuk hidup sebab makanan Anda ada di sekitar Anda, dan Anda tak mengeluarkan uang untuk energi. Uang dalam jumlah besar dapat disisihkan dalam masyarakat sehingga kita dapat lebih sejahtera.

Jadi ini adalah sebuah revolusi. Tapi Permaculture itu anti politik. Tidak ada ruang untuk politisi atau pemerintah atau pemuka agama. Tidak ada hukum juga. Satu-satunya etika yang kita ikuti adalah: peduli pada bumi, peduli pada manusia, dan membagikan kelebihan yang kita punya.

MENGARTIKAN POLA

August 6, 2010

This post was written by Adrian Buckley, and can be found in its original English form here http://permaculture.org.au/2010/07/31/decoding-pattern/ on the Permaculture Research Institute’s website.

Hampir semua sistem pendidikan modern saat ini terpusat pada profesor universitas dan spesialis lain. Kita dilatih secara sistematis untuk terspesialisasi, dan sebagai hasilnya kita menyelesaikan masalah dengan mempelajari sebagian saja dari keseluruhan, di mana kita mengabaikan hubungan antara masalah-masalah tersebut.

Kita telah melatih diri kita bekerja sebagai pribadi-pribadi, dan melakukan perancangan dan pemecahan masalah dari bagian kecilnya. Hal ini menghasilkan desain-desain yang bertentangan, tidak stabil, gamang, dan disfungsional. Pola adalah sambungan dan hubungan antara semua hal-hal. Mengerti pola membantu kita menemukan akar tantangan dan menuntun kita pada kehidupan yang swasembada, sekaligus selaras dengan alam.

Sebuah pola pada dasarnya adalah susunan teratur dari obyek atau peristiwa dalam waktu atau ruang. Semua hal, mulai dari urutan angka, bentuk awan, sampai ledakan dan kehancuran ekonomi adalah contoh-contoh pola.

Semua hal di alam dibentuk oleh sekumpulan pola yang terbatas! Masing-masing dari kita mampu mengerti kerumitan yang tampak tak terbatas di dunia di sekitar kita melalui pengertian pola. Sangat mudah untuk merasa kecil dan tak berarti oleh masalah lingkungan, sosial, dan ekonomi yang besar, entah itu menghidupi etika dalam pekerjaan, membersihkan daerah aliran sungai, atau apapun di antaranya. Kabar baiknya adalah bahwa semua hal itu (entah lingkungan, sosial, ekonomi, atau apapun) berada di sistem yang semuanya dibentuk sekelompok pola umum. Dengan mengerti bagaimana pola-pola itu bekerja di dunia, Anda dapat menemukan tantangannya dengan cepat dan menggunakan energi positif Anda untuk bekerja!

Setiap pola yang kita lihat memiliki pesan yang terlampir. Banyak pola adalah pertanda suatu peristiwa yang akan terjadi. Pola lain adalah penunjuk keadaan masa lalu yang menyebabkan keadaan dan peristiwa zaman ini. Semakin kita mengerti dan mampu mengartikan pola, kita dapat menemukan solusi permasalahan dengan lebih efektif, dan membuat rancangan yang selaras dengan lingkungan. Pola adalah pusat desain, dan desain adalah topik Bestari.

Ini adalah berita terbaik untuk Anda: Anda tahu tentang pola sebanyak yang saya tahu! Manusia sebagai spesies memiliki kemampuan pengenalan pola yang telah berkembang baik. Amatilah anak kecil dan Anda akan melihatnya. Yang perlu kita lakukan hanyalah menggali kembali pikiran kita dan mengembangkan kembali kemampuan kuno ini.

Pola itu prediktif dan posdiktif


Tanaman yang telah berkembang untuk tumbuh di tanah yang keras dan miskin karbon umumnya punya akar tunjang. Akar jenis ini punya efek seperti kapak yang pelan-pelan membelah tanah, membuat udara dan air bisa masuk. Ketika tanaman ini mati, akarnya membusuk menjadi kolom kompos yang kaya, menambah karbon ke tanah.

Kapanpun Anda melihat tanaman jenis ini, Anda segera tahu teknik apa yang dipakai alam untuk memperbaiki dirinya sendiri, tanah keras dan miskin karbon umumnya adalah tanah yang terganggu oleh aktivitas industri.

Kita semua tahu ketika melihat awan putih besar yang bergelembung di atasnya dengan bagian bawah gelap bahwa kita harus mencari tempat berteduh dari hujan. Kita tahu ini dan kita tak butuh gelar di bidang meteorologi! Kita semua mengasosiasikan pola awan tertentu dengan badai. Dengan melihat pola awan tertentu, kita dapat membuat prediksi lumayan akurat tentang keadaan cuaca sebentar lagi dan membuat pilihan berdasarkan itu. Pola itu prediktif, membantu Anda mengerti peristiwa yang akan datang dan yang mendahului peristiwa lain.

Ini contoh sederhana lain: Anggap Anda punya anggota tim yang selalu terlambat. Ketika merencanakan sesuatu Anda akan memasukkan pertimbangan terlambat kronis orang itu dalam rencana. Ini sangat jelas, tapi saya mengatakannya karena itu contoh yang jelas bagaimana kita berpikir dengan mengerti pola.

Sekarang pikirkan dandelion yang tumbuh di bagian halaman yang ingin Anda jadikan kebun. Dandelion adalah jenis tanaman yang punya akar tunggang, yang efektif memecah tanah yang keras. Kemungkinannya sangat besar di manapun Anda melihat dandelion, mereka menunjukkan daerah tanah yang keras. Intinya, dandelion adalah tanggapan terhadap pengerasan tanah. Jadi penampakan dandelion memberi Anda banyak petunjuk tentang penggunaan tanah itu di masa lampau, dan gagasan bagaimana cara memperbaikinya. Contohnya, menebar biji tanaman menguntungkan seperti lobak daikon dengan rapat, akar tunggangnya yang besar akan memecah tanah yang keras dengan cepat dan mengembalikan kehidupan ke tanah. Jadi pengertian pola adalah posdiktif, dalam hal banyak pola yang Anda lihat sebenarnya adalah tanggapan terhadap keadaan tertentu.

Ini contoh lain: pikirkan tentang kemacetan lalu lintas kronis. Apakah itu pertanda kendaraan terlalu banyak dan kita harus melebarkan jalan? Atau itu pertanda posdiktif bahwa masyarakat kita dibentuk sedemikian rupa sehingga kita tak dapat memenuhi kebutuhan perumahan lagi dan harus berkendara jarak yang jauh untuk memenuhinya?


Lingkaran peri, seperti tampak di sini, adalah kumpulan rumput yang tumbuh sangat cepat dan sering dilihat di halaman. Jenis miselium jamur tertentu bekerja saling menguntungkan dengan tanaman. Tanaman menghasilkan gula dan pati untuk miselium, dan miselium memanen dan mengirim mineral ke akar tanaman dari tempat yang jauh. Rumput di lingkaran peri adalah contoh jelas pertukaran ini bekerja.

Mungkin cara terbaik untuk mulai pengenalan pola adalah melalui pengamatan. Pengamatan yang baik dapat membawa banyak informasi untuk mengerti pola. Contohnya, seorang orangtua murid Bestari menjalankan pertanian bluberi di Nova Scotia. Masalah yang mereka temui adalah banyak tanaman pengganggu tumbuh di antara semak bluberi, mencuri nutrien dan sinar matahari. Orangtua itu menghadapi masalahnya dengan herbisida, tapi anaknya prihatin dengan penggunaan bahan kimia itu. Bluberi hidup di alam liar di Nova Scotia. Jadi dia memutuskan untuk pergi ke hutan dan melihat bagaimana bluberi liar bisa hidup. Dia segera menemukan bahwa bluberi hidup di tanah yang asam dan penuh jamur. Kembali ke pertanian orangtuanya, tanahnya jauh berbeda dari di alam, dan herbisida terus membunuh makhluk hidup di tanah, yang penuh dengan bakteri. Banyak dari tanaman pengganggu di pertanian orangtuanya hidup subur di tanah penuh bakteri.

Jadi ada solusi tepat di depan matanya! Murid itu tahu bahwa untuk menyelesaikan masalah tanaman pengganggu dan herbisida, dia harus menggunakan pola tanah bluberi liar dan membawanya ke pertanian orangtuanya. Dia harus mengubah tanah yang sebelumnya sangat basa di skala pH dan didominasi bakteri menjadi asam dan didominasi jamur, jadi bluberi akan hidup, dan tanaman pengganggu akan kalah. Dia mengamati sebuah pola di alam dan menerapkannya di desain pertanian bluberi orangtuanya!

Ini contoh lain: Saya pergi berjalan di pinggir jalan di Calgary suatu hari. Jalan itu dibangun sampai tempat parkiran terbuka. Di sisi lain jalan ada banyak tanaman legum: semua jenis kacang sapi, alfalfa, dan semanggi kuning manis. Pola semanggi kuning menarik sekali. Tanaman itu tumbuh ke arah pinggir jalan saja dan tidak tumbuh ke ladang sebelah di mana ada kacang, alfalfa, dan rumput yang tumbuh. Lalu saya cari di internet apa kemungkinan alasannya. Setelah pencarian singkat, saya menemukan bahwa semanggi kuning menyukai tanah miskin nitrogen yang basa. Ini penting, sebab memiliki informasi tentang tanah Anda adalah kunci untuk mengerti bagaimana Anda akan merancang kebun untuk membangun tanah atas yang lebih baik. Tapi saya telah menghemat banyak uang untuk uji tanah, hanya dengan mengamati pola tertentu dari semanggi kuning sebagai indikator mutu tanah.

Pola sebagai sarana desain


Spiral herba ini adalah desain yang diinspirasi alam dan dicetuskan oleh Bill Mollison. Spiral adalah jalan paling efisien menyimpan barang-barang dan menghemat tempat. Spiral herba dapat memuat banyak media tanam dengan struktur kompak dan mudah diletakkan di luar pintu dapur Anda. Dengan mengerti keuntungan dari spiral, spiral herba ini tak hanya menawarkan penghematan tempat tapi juga beragam habitat untuk berbagai jenis herba di satu tempat.

Tidak ada kebetulan bahwa hampir semua yang Anda lihat di dunia (dan selebihnya) terpola sedemikian rupa. Alam telah berkembang menjadi insinyur terbaik di planet ini, dengan milyaran tahun pengalaman di resumenya. Untuk semua sumber daya, perencanaan dan rekayasa telah diselesaikan oleh alam. Kapanpun kita harus menggunakan bahan bakar fosil dan banyak tenaga manusia untuk mengerjakan sesuatu, kemungkinan besar desainnya salah. Bila kita membuat pola dalam rancangan kita dengan baik, kerja yang diperlukan disediakan komponen rancangan itu sendiri, seperti yang kita lihat di contoh bluberi sebelumnya. Kita hanya perlu melihat alam sebagai guru kita ketika merancang kembali kehiduapn manusia, karena semua jawaban desain yang bagus dapat ditemukan di sana!

Pikirkan pola sebagai kata lain desain. Entah kita merancang hidup kita, bisnis kita atau kebun kita, kita sedang membuat pola mereka. Seperti saya kemukakan sebelumnya, pembuatan pola adalah penyusunan yang teratur dari obyek atau peristiwa dalam waktu atau ruang. Sebuah pola muncul ketika dua hal atau lebih berada dalam hubungan yang berarti satu sama lain. Contohnya, saya pemilik kafe, saya butuh makanan segar untuk roti isi saya. Saya punya tanah di belakang yang dapat banyak sinar matahari, jadi saya akan memberikan tanah itu untuk kebun komunitas dan rumah kaca dan sebagai imbalannya saya dapat sayuran segar. Kedua pihak sama-sama untung, dan ini akan menuju ke desain komunitas ini. Anda akan menemukan semua hal di alam disusun dalam hubungan dua pihak; ekologi dirancang untuk kerja sama dan bukannya kompetisi.

Ini adalah bagian 1 dari 2 dari Mengartikan Pola. Tunggu bulan depan untuk bagian 2, di mana Anda akan belajar tentang model pola umum yang menjelaskan dan membuat cara pandang baru terhadap semua hal yang Anda lihat di planet ini. Anda tak akan melihat sesuatu dengan sama lagi setelah membaca bagian 2!

Bestari: Rancangan untuk Kehidupan

July 27, 2010

Bestari lebih dari sekedar cara berkebun yang baru –

juga sebuah jalan untuk hidup lestari di planet Bumi.

sebuah wawancara dengan Bill Mollison, oleh Alan AtKisson

penerjemahan oleh Abdi Christia

Salah satu artikel di Making It Happen (IC#28)
Musim Semi 1991, Halaman 50
Hak Cipta © 1991, 1996 oleh Institut Context

NB: Bestari adalah kata nusantara yang dipilih oleh Abdi Christia sebagai padanan kata Permaculture, merupakan gabungan dari kata budaya-budidaya lestari. Untuk penjelasan lebih lanjut silakan baca di http://goodideafarm.wordpress.com/2009/11/06/proyek-bestari-catatan-pribadi/

Bill Mollison adalah legenda hidup. Dia dikenal sebagai jenius di balik Bestari, “David Brower-nya Australia,” (David Brower adalah seorang pemerhati lingkungan Amerika ternama, mendirikan dan aktif di berbagai lembaga lingkungan, red.) atau orang tua pemarah, tergantung siapa sumbernya. Baik itu penghargaan besar ataupun penolakan melecehkan, reaksi terhadap Mollison selalu adalah reaksi yang kuat. Jelas sekali dia adalah salah satu spesimen paling menarik dari seluruh spesies manusia – subyek yang sudah dia pelajari bertahun-tahun dari sudut pandang perilaku seorang ahli hayat.

Baru-baru ini dia dengan kru film berkunjung ke Seattle, membuat film dokumentasi tentang kesuksesan Bestari yang tersebar ke mana-mana, sebuah jalan yang sangat baru (atau, kata beberapa orang, sangat lama) untuk berkebun, merancang, dan hidup secara lestari dengan bekerja sama dengan alam. Ironisnya, kami bertemu dia di hotel pinggir kota – dipenuhi bising lalu lintas – saat kami mengejar definisi Bestari dan membicarakan betapa mirisnya kehidupan modern. Untuk penjelasan yang lebih detil lihat buku Mollison, Permaculture: A Designer’s Manual.

Alan: Bestari adalah ide yang sulit kumengerti. Tapi dari yang kubaca, kelihatannya ide itu bahkan tidak dimengerti sepenuhnya oleh orang yang mempraktekkan Bestari.

Bill: Aku yakin aku tidak tahu apa itu Bestari. Itulah yang aku suka tentangnya – tidak dogmatis. Tapi, kamu harus mengakui Bestari adalah satu-satunya sistem perancangan terorganisir yang ada. Dan itu membuat keadaan jadi sangat miris.

Alan: Mengapa “miris”?

Bill: Tidak ada buku lain yang berisi desain untuk kehidupan. Apa kamu tidak merasa itu miris? Maksudku, bagaimana kita bisa berharap bertahan hidup, bila kita tidak merancang hal-hal yang kita lakukan untuk dapat ditahankan?

Hal lain yang kutemukan sangat miris sekali adalah ketika orang membangun rumah, mereka hampir pasti salah. Mereka tidak hanya separuh salah, mereka salah mampus. Contohnya, bila kamu lepaskan orang-orang di alam dan minta mereka pilih tempat mendirikan rumah, setengah dari mereka akan mendirikan rumah di punggung bukit di mana mereka akan mati saat kebakaran selanjutnya, atau di mana kamu tak bisa membawa air ke sana. Atau mereka akan pilih tempat bendungan. Atau mereka akan pilih tempat yang membuat mereka tersiksa saat ada angin kencang nanti.

Lalu, setidaknya setengah dari kota-kota yang ada juga salah. Dari lintang 30° sampai 60° contohnya, kamu harus membuat sumbu terpanjang rumah menghadap matahari. Kalau tanahnya dipotong bujur sangkar, seteangah dari semua rumah itu jadi salah bila menghadap ke jalan. Bahkan rumah di pedesaan, yang jauh dari jalan, menghadap ke jalan. Dari keadaan itu, kamu hanya akan bertambah salah dalam semua hal.

Salah satu hukum terbesar dalam perancangan adalah mengerjakan sesuatu yang mendasar dengan benar. Lalu semuanya akan bertambah benar dengan sendirinya. Tapi bila kamu salah mengerjakan hal dasar – kalau kamu melakukan apa yang kusebut kesalahan Tipe 1 – kamu tak bisa mengerjakan lainnya dengan benar.

Alan: Ketika Anda bilang “kita”, apa maksud Anda manusia secara umum, atau spesifik untuk manusia Barat?

Bill: Manusia secara umum. Ada beberapa kelompok masyarakat yang menunjukkan tanda-tanda mereka sangat rasional dalam fisika konstruksi dan fisika kehidupan nyata. Beberapa masyarakat Timur-tengah punya sistem pembuangan air di kota-kotanya, dan sistem pembuatan es dengan penguapan cepat yang masif. Mereka adalah orang-orang rasional yang menggunakan prinsip-prinsip fisika untuk membuat hidup mereka nyaman tanpa tambahan sumber energi.

Tapi kebanyakan rumah modern tak bisa dihuni tanpa listrik – kamu bahkan tak bisa menyentor toilet tanpa listrik. Ini situasi ketergantungan penuh. Sebuah rumah harus bisa merawat dirinya sendiri – ketika cuaca memanas rumah mendinginkan diri, ketika cuaca jadi dingin rumah memanas. Ini hal sederhana, kamu tahu? Kita sudah tahu cara melakukannya sejak lama.

Alan: Dan miris kita tidak melakukannya.

Bill: Bahwa kita tidak merancang taman untuk mendukung rumah adalah hal yang lebih miris lagi. Bahwa kita tidak merancang pertanian untuk bisa sepenuhnya lestari membuat miris. Kita telah merancangnya untuk jadi bencana, dan tentu saja, kita mendapat bencana.

Alan: Ada ungkapan kuno Cina: “Bila kita tidak mengubah arah, kita akan sampai di tempat tujuan semula.”

Bill: Tepat sekali. Kupikir kita mungkin punya permohonan terakhir yang salah. Kita tidak mengerti apapun tentang tempat kita hidup, dan kita tak mau mengerti. Kita senang punya kekuatan – seperti mantan Presiden Bush. Dia harusnya bisa menghemat lebih banyak minyak dari yang dibutuhkannya dari Irak, tapi dia memilih pergi dan “menghajar” – membunuh orang – dan menggunakan lebih banyak minyak dalam prosesnya.

Amerika adalah masyarakat yang miris. Kelihatannya Amerika mau hidup di cekungan debu. Tapi seperti kata orang Indianmu sendiri, “Kalau kamu berak di tempat tidur, kamu jelas akan terganggu oleh berakmu.”

Alan: Mari kembali ke Bestari. Apa definisi terbaikmu untuk Bestari saat ini?

Bill: Kamu bisa bilang Bestari adalah pendekatan orang berakal sehat untuk tidak berak di tempat tidurnya sendiri.

Tapi kalau kamu seorang optimis kamu bisa bilang Bestari adalah upaya untuk mewujudkan Taman Eden. Atau, kalau kamu seorang ilmuwan, kamu mungkin suka Bestari sebagai lemari baju ajaib, yang di dalamnya kamu bisa gantung ilmu atau seni apapun dan menemukan mereka selalu harmonis, dan cocok dengan apa yang sudah ada di sana. Bestari adalah kerangka kerja yang tak pernah berhenti bergerak, tapi menerima informasi dari manapun.

Sulit untuk mengerti tentang Bestari – aku tak bisa. Kurasa aku akan lebih tahu tentang Bestari dibandingkan kebanyakan orang, dan aku tak bisa mendefinisikannya. Bestari itu multi dimensi –teori kekacauan sudah terlibat sejak awal tanpa terhindarkan di dalamnya.

Kamu lihat, kalau kamu berurusan dengan sekelompok makhluk hidup, kamu bisa menaruh mereka di satu tempat, tapi kamu tak bisa menghubungkan mereka. Kita tidak punya kuasa penciptaan – kita cuma punya kuasa menyusun. Jadi kamu cuma berdiri dan memandang hal-hal tersebut menghubungkan diri satu sama lain, dengan penuh kekaguman. Kamu mulai dengan mengerjakan sesuatu dengan benar, dan kamu nanti lihat mereka menjadi lebih benar dari yang kamu pikirkan.

Alan: Ini mengingatkan saya pada John Todd dan pekerjaannya tentang perakitan ekosistem buatan [IC #25]

Bill: Ada banyak kata untuk hal itu sekarang ini. Tapi pada hari aku mengeluarkan buku pertamaku, Permaculture One, belum ada kata untuk itu, meskipun itulah artinya: penyusunan ekosistem buatan. Aku akan setuju dengan siapapun yang berkata bahwa bila Permaculture harus ditulis, aku bukan orang yang tepat. Aku yakin John Todd dan Hunter Lovins (promotor pembangunan lestari di Amerika) akan mengerjakannya jauh lebih baik dariku. Tapi bagaimanapun, cepat atau lambat itu harus ditulis oleh seseorang, dan secara sejarah hanya sial saja yang menulisnya adalah aku.

Alan: Bagaimana Anda punya ide tentang Bestari? Apa yang membawa Anda ke sana?

Bill: Aku datang ke kota dari hutan – setelah 28 tahun kerja lapangan di alam – dan menjadi akademisi. Lalu aku memalingkan pengamatan ke manusia, seperti halnya aku dulu mengamati musang di hutan. Sekarang manusia jadi hewan penelitianku – aku mengerjakan pengamatan malam hari, dan aku membuat fonogram dari suara yang mereka buat. Aku mempelajari tangisan mereka, penggilan-panggilan mereka, dan sinyal bahaya mereka. Aku tak pernah mendengarkan apa yang mereka katakan – aku mengamati apa yang mereka lakukan, hal ini tepat kebalikan dari yang dilakukan Freud, Jung, dan Adler.

Tak butuh waktu lama untuk mengenal hewan-hewanku dengan cukup baik – dan aku menemukan bahwa apa yang mereka katakan tidak penting. Apa yang mereka lakukan sangat menarik, tapi tak ada hubungannya dengan yang mereka katakan, atau pertanyaan tentang apa yang mereka lakukan. Tak ada hubungannya. Siapapun yang pernah mempelajari manusia dengan cara mendengarkan pasti dikelabui dirinya sendiri. Hal pertama yang harusnya mereka lakukan adalah menjawab pertanyaan, “Apa manusia bisa melaporkan perilaku mereka secara tepat?” Dan jawabannya adalah, “Tidak, orang brengsek malang itu tidak bisa.”

Lalu untuk sementara aku pergi dari kesibukan di tahun 1972 – aku membuka sedikit tempat di hutan, membangun kandang dan rumah, dan berkebun – aku menyerah pada kemanusiaan. Aku jijik dengan kebodohan Universitas, institusi-institusi riset, semua hal itu.

Ketika ide Bestari datang padaku, rasanya seperti pergeseran di otak, dan tiba-tiba aku tak dapat menulis secepat yang kupikirkan. Ketika kamu berkata pada diri sendiri, “Tapi aku tidak menggunakan fisika dalam rumahku,” atau “aku tidak menggunakan ekologi di tamanku, aku tak pernah menerapkannya dalam apa yang kulakukan,” rasanya seperti ada gerakan fisik di dalam otakmu. Tiba-tiba kamu berkata, “Kalau aku dulu menerapkan pengetahuanku pada hidupku, pasti akan mengagumkan!” Lalu semua hal menggelinding seperti karpet raksasa. Buka satu simpul, dan semuanya akan menggelinding turun.

Alan: Pada saat ini Bestari bukan hanya jalan merancang sesuatu – itu sudah menjadi gerakan. Apa yang telah Anda mulai?

Bill: Baiklah, semua yang baik akan memperbanyak diri. Aku memulai sesuatu yang tak dapat kumengerti lagi – sejak kata itu keluar Bestari sudah di luar kendali. Orang-orang melakukan hal yang menurutku cukup mengagumkan – hal-hal yang tak akan pernah kulakukan dan tak dapat kumengerti dengan baik.

Contohnya, satu dari orang-orang yang kulatih di 1983, Janet McKinsey, menghilang dengan seorang teman ke dalam hutan – dua perempuan dengan anak-anak. Mereka memutuskan mereka bisa mengurangi banyak kebutuhan mereka, dan mereka membuat studi sangat ilmiah bagaimana cara melakukannya di rumah mereka sendiri. Mereka sekarang memulai sesuatu yang disebut “Home Options for Preservation of the Environment” – HOPE.

Mereka menunjukkan, contohnya, bahwa hanya ada empat hal di bahan pembersih – entah itu shampo, deterjen cuci, apapun. Kamu beli bahan-bahan pembersih itu dalam jumlah besar dan kamu campur dengan pas, dan mereka semua bekerja baik. Tak peduli penjual bilang sebuah produk itu ramah lingkungan, atau ada lumba-lumba berenang di sekitar labelnya – tetap saja ada empat hal itu di dalamnya. Semua lainnya hanyalah tambahan tidak penting untuk membuat produk-produk itu baunya enak atau warnanya jadi biru ketika keluar di toilet.

Alan: Jadi akankah Anda bilang yang mereka lakukan itu juga Bestari?

Bill: Oh, aku tak tahu kamu bilang itu apa. Tapi mereka sampai di sana setelah kursus Bestari. Ketika mereka pertama sampai di kota – Benala, di Australia – dan mengajar, semua perempuan di kota berkata, “Oh ini menakjubkan, kami semua akan melakukannya!” Perempuan-perempuan itu memesan kemasan curah – jadi toko-toko di kota harus berubah, karena mereka tak bisa menjual produk-produk sampah lagi ke perempuan-perempuan itu. Lalu Dewan kota harus berubah, untuk membuat peraturan tentang daur ulang.

Jadi perempuan-perempuan itu – dan perempuanlah yang membelanjakan uang masyarakat – memeriksa penggunaan energi dan tingkat kebutuhan belanja mereka, dan mencoret barang yang boros energi dan tidak perlu. Sangat sederhana, ketika kaum perempuan belajar apa yang harus mereka beli dan bagaimana membelinya, semua hal dapat kembali waras. Hal itu menyebar menggila – seperti semua ide bagus lainnya.

Murid-muridku terus-menerus membuatku kagum. Ini ada cerita lain: Aku memberi kursus Bestari di Botswana, dan sekarang muridku ada di gurun celaka di Namibia mengajari suku Bushmen – yang bahasanya tak dapat dikuasai siapapun – agar jadi orang-orang Bestari yang baik.

Alan: Apa yang dapat mereka ajarkan pada suku Bushmen yang belum diketahui oleh suku itu?

Bill: Berkebun. Karena orang Bushmen tak dapat lagi bertahan dengan hasil buruan, dan binatang buruan mereka terbunuh oleh pagar untuk pembesaran sapi potong yang dibuat oleh Komisi Eropa. Persis seperti Aborigin Australia, 63% makanan mereka sudah punah, dan sisanya sudah langka sekarang. Kamu tidak bisa hidup seperti suku Bushmen atau seorang Aborigin lagi, jadi mereka harus memikirkan bagaimana mereka akan hidup. Bestari membantumu melakukan hal itu dengan mudah.

Alan: Jadi, seperti hal lainnya, Bestari kelihatannya juga perubahan persepsi – sebuah perubahan di mana seseorang mulai melihat segala sesuatunya.

Bill: Kupikir itu benar. Untukku, yang telah mengalami pendidikan Barat, itu adalah perubahan dari pembelajaran pasif – kamu tahu, “beginilah yang dikatakan oleh buku” – ke sesuatu yang aktif. Bestari berkata (dan ini mengerikan bagi orang-orang universitas) bahwa daripada fisikawan mengajarkan fisika, lebih baik fisikawan harus pulang ke rumah dan melihat bagaimana fisika diterapkan di rumah mereka.

Sekarang, mereka mungkin mengajar fisika yang rumit di universitas. Tapi mereka pulang ke rumah, ke lingkungan rumah tangga yang hanya bisa digambarkan sebagai kegilaan dalam penggunaan energi. Mereka tak bisa melihat itu, dan kebutaan itu menjijikkan.

Mengapa kita tidak membangun pemukiman manusia yang swasembada pangan, menghasilkan bahan bakar sendiri, dan menyediakan air sendiri, ketika setiap pemukiman bisa melakukan hal itu dengan mudah? Ketika hal itu bisa dikerjakan dengan mudah?

Alan: Mungkin karena kita sangat kaya sehingga kita percaya tidak harus melakukan hal-hal itu.

Bill: Begini, aku tidak bilang itu namanya kaya. Kamu mau definisi kekayaan dari para Eskimo, orang Inuit? Kekayaan adalah pemahaman mendalam terhadap alam. Kupikir orang Amerika sangat kasihan dan perlu dikasihani, karena kalian tidak mengerti apapun tentang alam.

Alan: Kalau Anda mau menjalankan Bestari, dan tak ada guru di sekitar Anda, harus mulai dari mana?

Bill: Mulai saja di tempatmu sekarang.

Alan: Aku pernah baca Anda berkata, “Mulailah dengan hidungmu, lalu tanganmu…”

Bill: “… pintu belakangmu, tangga depan pintumu” – kamu kerjakan itu dengan benar, maka semuanya benar. Kalau semua itu salah, tak ada yang akan bisa benar. Katakan saja kamu bekerja untuk organisasi bantuan luar negeri yang besar. Kamu tak bisa pergi dari rumah naik Mercedes Benz, mengemudi 80 kilometer untuk bekerja di bangunan beton raksasa di mana mesin diesel bergemuruh di ruang bawahnya hanya untuk menjaga suhu cukup dingin untukmu bekerja, dan merencanakan gubuk tanah di Afrika! Kamu tak bisa membuat gubuk itu dengan benar kalau kamu belum bisa memperbaiki tempat tinggalmu. Kamu harus memperbaiki hal-hal sampai benar, bekerja untukmu, lalu pergi dan bercerita tentang itu.

Alan: Mengerjakan Bestari sepertinya kebalikan dari abstraksi.

Bill: Oh, aku katakan dengan cara lain saja. Aku dapat dengan mudah mengajari orang berkebun, dan dari mereka, setelah mereka tahu cara berkebun, kita akan dapat seorang filsuf. Tapi aku tak akan pernah dapat mengajari orang menjadi filsuf – dan bila aku melakukannya, kita tak akan mendapat seorang pekebun dari mereka.

Ketika kamu kenal seorang ahli ekologi yang juga filsuf, dan mereka mengendarai mobil, membeli koran, dan tidak menanam sayur sendiri, sebenarnya mereka bukan ahli ekologi – mereka musuh-musuhku.

Tapi, ketika kamu kenal seseorang yang merawat dirinya dan orang-orang di sekitarnya – seperti Scott Nearing (seorang ekonomis radikal Amerika yang menyerukan cara hidup sederhana dan damai, red.), atau Masanobu Fukuoka (seorang petani-filsuf Jepang yang memperjuangkan kembali konsep pertanian alami, red.) – itulah ahli ekologi sejati. Mereka berbicara filosofi dalam bahasa yang kumengerti. Orang seperti mereka tidak meracuni lingkungan, tidak menghancurkan alam, tidak membuang-buang tanah subur, dan tidak membangun hal-hal yang tak dapat mereka rawat.

Alan: Semua yang sudah kamu lakukan sekarang sepertinya berkata bahwa mengubah arah hidup itu tidak terlalu sulit.

Bill: Aku pikir hidupku ini hidup yang sangat kaya. Aku mungkin menjalani hidup yang sangat dimanjakan, sebab aku berkunjung ke orang yang tertarik dalam Bestari ke orang yang tertarik dalam Bestari. Sebagian dari mereka orang pedalaman, sebagian lagi perkotaan, dan begitulah. Aku percaya kemanusiaan ini sangat menarik, dan mereka semua sibuk melakukan dan memikirkan hal-hal yang menarik.

Alan: Bestari terlibat dalam pengubahan alam, tapi menurutmu sejauh mana kita boleh melangkah? Apakah kita harus melakukan rekayasa genetika, membuat hibrida, dll?

Bill: Hal yang penting adalah tidak melakukan pertanian dalam bentuk apapun, khususnya menjadikan ilmu pertanian modern sebagai daerah terlarang – mereka lebih buruk dari ilmu sihir, sungguh. Ilmu pertanian yang diajarkan di perguruan tinggi antara 1930 dan 1980 telah menyebabkan lebih banyak kerusakan di muka bumi daripada faktor lain. “Apakah kita harus mengubah alam?” bukan lagi pertanyaan – kita telah mengubah alam di seluruh muka Bumi.

Kalau kamu biarkan dunia menggelinding seperti sekarang, kamu sedang memilih kematian. Aku tidak memilih kematian. Laju kepunahan sekarang sangat tinggi, kita sampai pada tahap kita harus menjalankan ekologi rekombinan. Kini tak ada cukup banyak spesies yang tersisa untuk menjaga sistem kehidupan tetap utuh. Kita harus membiarkan alam menyatukan apa yang tersisa, dan melihat apa yang akan muncul untuk menyelamatkan kita.

Di saat yang sama, semua yang tersisa seperti alam liar harus dibiarkan dan tidak diganggu. Kita tak punya urusan lagi di sana. Kamu tak akan selamat bila kamu pergi merambah dan menebang hutan tua terakhir. Kamu seharusnya tidak pernah sampai pada tahap dapat melihat hutan tua terakhir! Pergi dari sana sekarang, karena pelajaran yang kamu butuhkan ada di sana. Itulah tempat terakhir kamu akan menemukan pelajaran yang bisa dibaca.

Alan: Bagaimana Bestari diterima?Apa yang dikatakan orang-orang tentang bukumu, contohnya?

Bill: Kali pertama aku lihat ulasan tentang buku Bestariku adalah tiga tahun setelah aku menulisnya. Ulasannya dimulai dengan, “Permaculture Two adalah sebuah buku yang mengajak memberontak.” Dan aku berkata, “Setidaknya ada seseorang yang mengerti tentang apa Bestari itu.”

Kita harus memikirkan kembali bagaimana kita akan hidup di bumi ini – berhenti berbicara fakta bahwa kita harus punya pertanian, kita harus mengekspor, karena semua itu adalah kematian bagi kita. Bestari menantang apa yang kita lakukan dan kita pikirkan – dan untuk cakupan itu, hal tersebut adalah pemberontakan.

Orang-orang menanyaiku mengapa aku datang ke Amerika belakangan ini. Mereka bertanya, “Apa pekerjaanmu?” Aku bilang, “Aku hanya pekebun sederhana.” Hal itu benar-benar memberontak. Bila kamu sekarang adalah orang sederhana, dan mau hidup sederhana, itu benar-benar memberontak. Dan menyarankan orang untuk hidup sederhana itu tetap lebih memberontak.

Kamu lihat, hal terburuk dari Bestari adalah bahwa hal ini sangat sukses, tapi tidak punya pusat, dan tak ada hirarki.

Alan: Jadi, itu paling buruk dari sudut pandang siapa?

Bill: Semua orang yang mau mematikannya. Bestari adalah gerakan dengan sejuta kepala. Ini adalah jalan berpikir yang sudah lepas, dan kamu tak bisa mengembalikannya lagi ke dalam kotak.

Alan: Apa ini gerakan anarkis?

Bill: Tidak, anarki akan menyarankanmu untuk tidak bekerja sama. Bestari memaksa kerja sama penuh antara satu sama lain dan tiap hal lainnya, hidup maupun tidak. Kamu tidak bisa bekerja sama dengan cara menghajar atau bersikap seperti bos atau memaksa sesuatu untuk bekerja. Kamu tak akan dapat kerja sama dari sistem yang hirarkis. Kamu dapat arahan yang memaksa dari atas, dan tak ada hal yang kukenal yang dapat berjalan seperti itu. Aku pikir dunia ini akan berfungsi sangat baik dengan kerja sama jutaan kelompok kecil, yang berhubungan satu sama lain.

Alan: Berdasarkan penelitianmu tentang perilaku kami (manusia, red.) dan pekerjaanmu menyebarkan Bestari, apa kamu punya alasan untuk berharap kita dapat selamat sebagai sebuah spesies?

Bill: Aku pikir tak ada gunanya menanyakan pertanyaan seperti, “Akankah manusia selamat?” Hal ini murni tergantung pada manusia – bila mereka mau, mereka akan selamat, kalau mereka tak mau, mereka tak akan selamat.

Aku akan berkata, gunakan semua kemampuan yang kamu punya dalam berhubungan dengan hal lain – dengan cara itu kita dapat melakukan semuanya. Tapi bila kamu pinjamkan kemampuanmu ke sistem lain yang tidak sepenuhnya kamu percaya, maka kemungkinan besar kamu belum pernah merasakan kehidupan. Kamu belum menunjukkan siapa dirimu.

Bila orang-orang butuh bimbingan, kataku, lihat saja pada apa yang benar-benar dilakukan manusia. Jangan terlalu banyak mendengarkan mereka. Dan pilihlah teman karena kamu suka pada hal yang mereka kerjakan – meskipun mungkin kamu tidak suka apa yang mereka katakan.

Kitalah orang-orang yang melakukannya. Tak perlu orang lain – kita ini cukup untuk melakukan semua kemungkinan untuk memperbaiki Bumi. Kita tak perlu mensyaratkan kita perlu minyak, atau pemerintah, atau apapun. Kita bisa melakukannya.

Aku kembali!

February 22, 2010

Sudah 3 bulan sejak aku memasang tulisan terakhir di blog ini. Setelah lulus dan diwisuda aku pulang ke rumah di Batu, Jawa Timur. Kembali ke sini tetap saja butuh penyesuaian setelah lebih 7 tahun jarang di rumah. Nah, anggaplah tiga bulan itu masa penyesuaian yang kubutuhkan J.

Aku mau mulai menulis lagi, menyampaikan uneg-uneg dan melaporkan banyak hal yang kualami lewat tulisan. Seorang teman memberi pujian, dia berkata tulisanku tentang pengalaman meneliti di Swedia cukup bagus. Sungguh, pujian kecil bisa memberi semangat saat kita sedang lesu. Mari kita saling memberikan pujian untuk tiap pencapaian baik yang dilakukan orang lain. Di kali lain, kita juga patutnya memberi tahu orang lain bila dia melakukan kesalahan.

Hmm… kembali ke bahasan utama, good idea farm. Sekembalinya di rumah aku punya sedikit laboratorium untuk mulai praktek berkebun, menerapkan prinsip-prinsip pertanian alami dan permaculture. Kebetulan sekali rumahku yang ada di desa ini berada di tengah kebun, luasnya cukup lah untuk coba sana coba sini. Hingga sekarang ada beberapa desain berkebun yang kukerjakan di sini. Ada kolam ikan dengan variasi kedalamannya, kebun sayur dengan desain Gangamma’s Mandala, taman herba bentuk ziggurat (lebih mirip keong sih), dan kotak kentang vertikal.

Aku juga menanam benih gandum yang kudapatkan dari Pak Djoko, pemulia tanaman gandum di Universitas Satya Wacana, Salatiga. Sekarang gandum-gandum itu sudah mengeluarkan malainya lho. Memang nggak banyak tapi cukuplah untuk dilihat dan bikin seneng, hehe.

Oke deh, sekian dulu. Biar surat pendek ini jadi pembuka musim menulis yang baru. Semangat!

Proyek Bestari: Catatan Pribadi

November 6, 2009

Kata bestari berasal dari bahasa Melayu, artinya cerdas, pandai atau cerdik. Pernah kudengar pula semasa kecil lewat kata gabungan dinda bestari. Aku tak ingat apa itu, mungkin judul atau lirik lagu Melayu. Bila kita coba cari di internet, akan kita temukan banyak kata bestari di halaman saudara kita dari Malaysia.

Mengapa tiba-tiba kupakai bestari sebagai nama proyek? Ini bermula ketika aku tergelitik saat mencoba menerjemahkan permaculture (permanent agriculture / culture). Sebuah yayasan lingkungan hidup dan tanggap bencana di Bali menyerap kata permaculture sebagai permakultur. Hal ini membuat kita merasa nyaman sebab bisa diucapkan dengan mudah.

Namun demikian, aku merasa ada beberapa kekurangan dalam penyerapan kata tersebut. Pertama, seringkali orang salah ucap huruf e sebagai é (seperti pada cék) padahal seharusnya dibaca ê (seperti pada pêrmanen). Kedua, kata permakultur tidak sesuai dengan kaidah pembentukan istilah di Indonesia, seharusnya kulturperma, sebab agrikultur (kata benda) diterangkan permanen (kata sifat) yang ada setelahnya. Ketiga, aku percaya pasti ada kata asli nusantara yang bisa menjelaskan kata cetusan Bill Mollison itu dengan sama baiknya.

Kemudian pikiranku melayang mencari padanan kata nusantara untuk agrikultur, dua kata yang bisa kudapatkan adalah pertanian dan budidaya. Lalu aku menemukan sesuatu yang menarik. Apakah ini kebetulan yang sungguh manis bahwa agriculture=budidaya dan culture=budaya? J Untuk padanan kata permanen aku menemukan kekal atau tetap, tapi aku kurang sreg dengan mereka. Aku merasa dalam hal ini kata permanen juga memiliki konteks lain yaitu sustainable, yang bisa dipadankan dengan berkelanjutan atau lestari. Nah, kini sudah jelas dari mana asal kata bestari yang kugunakan bukan?

Bahwa arti asli kata bestari, yang baru kuketahui kemarin, adalah cerdas atau cerdik membuatku semakin bahagia. Mantap lah! Sekarang aku yakin telah menemukan padanan kata permaculture dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Aku sadar seharusnya kamus bahasa digunakan lebih intensif, misalnya mencantumkan arti beberapa kata yang terlibat, namun dalam kesempatan ini aku rasa tulisan singkat di atas cukup jelas.

Kata permaculture boleh digunakan siapa pun yang menghidupi etika dan prinsip yang dirumuskan oleh Bill Mollison di buku-bukunya. Batasan hanya ada dalam hal pengajaran, yang mana seseorang hanya dapat mengajarkan permaculture bila ia telah mendapatkan sertifikasi mengajar dari Institute of Permaculture. Demikian pula hal yang sama sebaiknya terjadi dengan kata bestari, malah mungkin tanpa batasan, sebab kata ini bukan kata baru yang didaftarkan hak ciptanya seperti halnya permaculture.

Dirgahayu bestari!

Proyek Bestari : Pengelolaan Sampah (1)

November 4, 2009

Aku akan menuliskan perjalanan “Proyek Bestari” di blog ini. Semoga catatan perjalanan ini bisa berguna bagi banyak orang. Bagi kawan yang penasaran mengapa nama proyek ini adalah “Bestari”, aku menyemangati kalian untuk bersabar menunggu tulisan selanjutnya. J

    Pertama aku akan memulai dari latar belakang proyek ini. Sudah lama aku tertarik dan memperhatikan masalah lingkungan, mungkin sejak SMP. Aku rasa semua orang pasti punya perhatian terhadap lingkungan sekitarnya, hanya saja ada yang peka ada yang kebal, dan ada yang pasif ada yang aktif. Keprihatinan terhadap kualitas lingkungan ini makin kurasakan ketika aku aku kuliah. Banyak hal mulai terasa menyedihkan: jumlah kendaraan bermotor, antri BBM, polusi udara, kekeringan, banjir, kekurangan pangan, dan lainnya. Aku rasa titik perubahannya adalah ketika aku bekerja di Swedia dari Januari sampai Juni 2009 lalu. Kekayaan sumber daya alam negara Eropa utara itu hanya batu-batu raksasa, hutan, sungai, dan ikan-ikan di laut. Mereka tak punya minyak bumi setelah memberikan seluruh pantai penuh minyak pada Norwegia. Bila dibandingkan, akan sangat terasa bahwa potensi sumber daya alam Indonesia sungguh wah! Namun, Swedia berani memasang target memenuhi kebutuhan energi nasionalnya dari sumber daya terbarukan pada tahun 2050! Mereka melakukan penelitian tak kenal lelah untuk mewujudkannya. Sampah dan limbah kota diolah menjadi gas dan air panas untuk masyarakat. Hal-hal itulah yang membuatku sungguh gatal ingin berbuat sesuatu dalam hidupku yang singkat ini.

    Kapan aku harus mulai bertindak mewujudkan mimpiku? Di mana? Pertanyaan itu mengusikku belakangan ini, terlebih ketika aku hampir menyelesaikan pendidikan di Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian UGM. Aku berpikir dan memberanikan diri untuk menjawab: sekarang! Dan pasangan jawabannya: SMA Van Lith! Aku pilih SMA Van Lith karena banyak alasan, tapi yang utama karena aku alumnus SMA tersebut. SMA Van Lith adalah tempat ideal untuk menyemai benih apapun, positif atau negatif, tapi dalam hal ini yang kumaksud adalah hal baik yaitu kepedulian lingkungan. Siswi-siswa di sana punya banyak kesamaan: lokasi, kondisi sosial, kepercayaan, dan usia. Yang aku tahu semakin muda seseorang semakin ia mudah belajar dan berubah.

Gambar di samping diambil pada bulan Oktober 2009, rasanya cukup menggambarkan keadaan pengelolaan sampah di SMA Van Lith yang tersayang itu.

Oktober 2008 aku dan dua orang teman datang ke SMA Van Lith untuk menemui pengurus OSIS. Setelah mendapat izin dari bruder dan suster di asrama, kami ngobro dengan 4 orang pengurus. Kami sampaikan tujuan kami datang yaitu ‘mengompori’ pengurus OSIS untuk mulai bertindak dalam hal lingkungan. Salah satu jalan memulainya adalah dengan pengelolaan sampah.

Kawan-kawan pengurus ternyata juga sudah ingin bertindak soal itu, hanya saja mereka belum tahu bagaimana caranya. Obrolan kami lanjutkan dengan hal teknis untuk memulai gerakan pengelolaan sampah itu. Kami berharap agar gerakan tersebut dimulai dari siswa-siswi aktif sebab merekalah yang punya waktu dan tenaga paling potensial karena dekat dan mengalami langsung.

    Hasilnya sangat menggembirakan! Baru 6 bulan berselang pengurus OSIS sudah bergerak dan membuat satu bidang kerja di KoKAS yang bernama Bidang Lingkungan. Untuk gerakannya sendiri mereka memberi istilah BageM (Bantargebang Mission), haha, memang anak muda lucu-lucu ya… Memang mereka belum memulai secara nyata gerakan ini, tapi adanya kesadaran dan niat itu menurutku adalah hal yang harus disyukuri sebagai permulaan.

    Sekarang mari bicara soal potensi dan manfaat yang akan didapatkan dari BageM:

  1. Kemampuan adik-adik kita untuk melakukan gerakan sosial pengelolaan sampah. Kemungkinan besar pengalaman ini akan sangat berguna sekali (aku tidak berlebihan dalam hal ini) saat mereka kuliah dan hidup di masyarakat nanti.
  2. Kebersihan yang utuh. Saat ini yang diterapkan banyak warga di Indonesia adalah “Asal rumah saya sendiri bersih.” Konsekuensi dari cara hidup ini adalah sampah rumah tangga tidak menumpuk di rumah, tapi di tanah orang lain, mencemari sungai orang lain. SMA Van Lith masih menghidupi ini dengan membuat bersih semua bagian yang sering nampak. Namun, bila kita buka pintu ke arah Kali Lamat akan terlihatlah semua sisa ketidakpedulian kita. Ini harus berubah!
  3. Kebiasaan kepedulian lingkungan. Mari kita akui, ala bisa karena biasa. Kalau mengelola sampah sudah jadi budaya, setelah lulus para siswa-siswi akan membawa budaya itu ke manapun mereka pergi.
  4. Sedikit manfaat ekonomis. Bila sampah dipilah dengan baik, ada sedikit keuntungan ekonomis yang mungkin diperoleh dari penjualan sampah yang bisa didaur ulang.
  5. Peluang untuk penelitian. Aku yakin gerakan punya banyak sekali peluang untuk penelitian, baik di tingkat karya tulis maupun tingkat tugas akhir/skripsi S1. Jenis dan volume sampah, optimasi aliran sampah, komposter yang efisien dan efektif, dan banyak lagi.
  6. Banyak manfaat yang tak terlihat lainnya. SMA Van Lith dapat dengan rendah hati
    diberitakan (atau memberitakan) apa yang mereka lakukan di media massa. Hal ini kemungkinan besar akan meningkatkan kepercayaan masyarakat, menambah frekuensi kunjungan, bahkan tidak mustahil jadi proyek percontohan di tingkat sekolah.

     

        Hmm, lalu apa lagi yang kita tunggu untuk ikut mendukung proyek ini?

Permaculture, what is it?

October 9, 2009

 

Hi there my friends! If you are Indonesian and have never heard of ‘permaculture’, it’s really not a problem. This movement hasn’t gained big momentum in Indonesia. However, in our neighboring country, Australia, permaculture is a heap! At least that’s what I read :)

    Yup, ‘permaculture’ term was coined by Bill Mollison and David Holmgren in Australia in the mid-1970′s. It comes from two words, ‘permanent’ and ‘agriculture’. Permaculture is an integrated, evolving system of perenniala or self-perpetuatingb plant and animal species useful to man. However again, the concept of permanent agriculture has evolved to permanent or sustainable culture. In other words, permaculture is one of the concepts that may allow human to inhabit this earth forever.

    David Holmgren in Essence of Permaculture (2007) listed 3 ethical principles of permaculture.

  • Care for the earth (husband soil, forests, and water)
  • Care for people (look after self, kin, and community)
  • Fair share (set limits to consumption and reproduction, and redistribute surplus)

But, those ethical principles seem to be very common. Yeah, it should be! Good common senses are just the same everywhere in the earth I think.     Then, what’s the difference of this permaculture with other agriculture concepts?

The differences lie on the design principles of permaculture. Let us take a short stroll of those principles.

  1. OBSERVE AND INTERACT

    Human has the ability to observe natural events and then decide what is best for sustainable life.

  2. CATCH AND STORE ENERGY

    Our dependence on fossil fuel will last. We need to save and reinvest energy for the future.

  3. OBTAIN A YIELD

    It is useless to plant forest for our grandchildren when we do not have enough food for today.

  4. APPLY SELF-REGULATION AND SET FEEDBACK

    Nature has wonderful self-regulation and feedback systems. It is the key of sustainability or balanced life.

  5. USE AND VALUE RENEWABLE SOURCES AND SERVICES

    Renewable sources are the only natural source we can depend, not the non-renewable.

  6. PRODUCE NO WASTE

    The design should produce no waste by using another byproduct as another feedstock.

  7. DESIGN FROM PATTERNS TO DETAILS

    Nature often has patterns that allow us to learn something new and efficient.

  8. INTEGRATE RATHER THAN SEGREGATE

    Integration and interdependence of many factors are keys of more efficient living.

  9. USE SMALL AND SLOW SOLUTIONS

    Continuous small and slow solutions are better than big pipe dream solution. Kaizen.

  10. USE AND VALUE DIVERSITY

    Polyculture is the key of natural and sustainable agriculture.

  11. USE EDGES AND VALUE THE MARGINAL

    Always taking the main path and following the main current are not always good.

  12. CREATIVELY USE AND RESPOND TO CHANGE

    Change is essential for life. To adapt and to innovate are also needed in permaculture.

    I am sure that some of you are still confused about permaculture. This article might be too abstract and hard to be imagined, I realize that. Therefore, I am planning to write more about permaculture. I hope I can give you nice examples and stories next time. Thank you for reading.

a lasting for ever or for a long time

b frequently repeating

Environmental Awareness for Youngsters

October 6, 2009
tags:
Environment awareness grown as early as possible

Youth awareness

Like or not, we got to admit that we depend to environment to live. Human civilization existed at first on fertile land and river banks with water and food sources. City can only grow with enough support from its nearby area. See Easter Island case as an example, its people forget to maintain their environmental sustainability then as a consequence their civilization ruined . Therefore, it is very important to maintain the supportive ability of our environment for civilization to survive.

However, environmental awareness is not generally taught to the youngsters, especially they who live in the cities. We may still find teens who don’t aware about this vital issue. Where the foods come from, where our drinking and household water come from, how the waste affects our environment, and etc. These kinds of human alienation from its environment may not be built purposesively. Maybe it is just a sum result of lack of education and ignorance of the society. Thus, the solution is to introduce environmental awareness to the young people. As early as possible it must be experienced too, using any possible ways.

Why aim for young people? We have several good reasons. First, young people will have to deal with environmental changes in their future, more than older people nowadays. Second, we are talking about making changes. Its easier for young people to change their viewpoint and habit than old people. But, however, I don’t fully agree with saying ‘You can’t teach old dogs a new trick’ :) Third, young people can play bigger role in changing the family. Parents listen better to their children than to government or formal rule. Last, in our society young people already gather themselves in formal communities, e.g schools and universities. This makes efforts to raise environmental awareness can be focused.

So, let us support environmental awareness raising projects in our society! Thank you for reading.

What about wheat?

October 2, 2009
tags:

Wheat a second… wheat do you mean? :)

This day is a historical day, I see wheat grains for the first time! Wheat grain is the raw material for making wheat flour, which is the main component we need to make a bread. Although everywhere we can find breads here in Indonesia, it is very rare to find wheat grass grown here. In fact, wheat is a plant originated from temperate region. Almost (or all) wheat milled to flour is imported from foreign countries such as Australia, Canada, China, or United States.

I just happened to know that wheat can be grown in Indonesia in 2004. I knew it in my highschool career day, from a booth with golden stalk of wheat complete with its grains. It was Satya Wacana Christian University in Salatiga, its agricultural faculty specialize on wheat agriculture development. I was very interested because I didn’t ever thought wheat could be grown well in Indonesia climate. However, after that day many years passed without any activities involving wheat.

Recently my interest in wheat grow again after I taste whole grain bread. That is the kind of bread I like, much better than the one made from purified white wheat flour. But I found some problems with whole grain bread here in Indonesia. First, it is sold very expensively, twice the price of usual white bread. Second, the whole grain flour is not that easy to find in the market.

As I know, the whole grain flour is cheaper to produce as it requires no sophisticated refining technology. It is healthier too because it still contain the fiber and many useful components of the wheat grain. Then, if it is cheaper to produce and healthier to be consumed, why don’t we stick to it as better bread? We know now that wheat can be grown and developed in some places Indonesia. Why don’t we put an effort to make whole grain bread common and available for people?

This day I got wheat seeds from a lecturer in Satya Wacana Christian University, Salatiga. I am planning to give it a try to grow them. Hopefully this tiny concern can someday grow and yield good things. Thank you for reading :)

Golden head of wheat grass

Golden head of wheat grass

At the Dawn of A Farm

September 29, 2009
tags:

Hi! I welcome you to this new blog, Good Idea Farm!

I suppose you might be wondering why I did choose that name. Then I better offer an explanation before you ask :)

I dream to be a farmer in the future. I feel that farming is a simple and honest way of living, which I would love to live. However, I have not possessed any squares of land of my own this days, it may be few or many years before I could afford it. So then I asked myself, “What should I do to keep this ‘farmer-wannabe spirit’ keep alive?”

I think one of the possible way is by writing it. I want to do it in a internet blog so my writings are available for everyone in the world, so they could see what my concerns are. Then I would be happy if people give their comments and we got into a sharing/discussion. Isn’t it interesting for you?

Let us consider this blog as a farm. Do you agree that idea are just like plant’s seed? They are still dormant and weak. They can do no goods yet, like providing shelter for animals, growing fruits for creatures around them, neither yielding grains for human’s food. The seed, the idea, has to grow first! It shall fall on fertile soil and got enough water and shade for their first stage of life. After they are ready they must face the cycle of nature like storm, heat from sun, drought, frost, and etcetra. Only after the process plants can serve other creature at their full potential. It all can happen in a farm. For me that is the farmer’s creed, to work together with nature so that the seeds can reach its apex of talents.

I hope this blog could be that farm. Let the good ideas fall from our minds, from our concerns to the conditions in society. Let it fall to the internet, the network of network, so many people may read it. So that comments and critics may act as the natural cycle to nurture it. And someday may we, the farmers of good ideas, enjoy the very smile of a farmer. A smile from watching the tiny seeds now have become the mature plants and trees.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.